The Achieving Cardiovascular Excellence in Colorado (A CARE)


A CARE merupakan program yang menggunakan metode pengukuran tekanan darah di rumah (Home blood pressure monitoring – HBPM) untuk meningkatkan kontrol tekanan darah pada pasien hipertensi. Target partisipan adalah dewasa usia 18 tahun ke atas yang tidak sedang hamil dengan peningkatan tekanan darah, telah tegak terdiagnosis hipertensi, maupun memiliki faktor resiko penyakit cardiovascular lain. Partisipan merupakan penduduk daerah pedesaan atau daerah perkotaan yang kurang terawat.

Sebelum memulai program, pasien yang menjadi partisipan diminta untuk menonton video pelatihan teknik HBPM dan system pelaporan hasil HBPM. Staf terlatih mengukur cuff yang sesuai untuk pasien dan menjawab pertanyaan-pertanyaan pasien. Kemudian pasien diberikan alat pengukur tekanan darah yang telah tervalidasi untuk digunakan di rumah, copy video untuk dilihat lagi di rumah, dan booklet edukasi.

Partisipan diminta untuk melaporkan rata-rata tekanan darahnya dan jumlah pengukuran tekanan darah sekali dalam sebulan menggunakan website A CARE, telepon interaktif, atau system pelaporan dengan surat. Setiap bulan, partisipan diingatkan untuk melaporkan hasil HBPM melalui e-mail atau telepon. Kemudian partisipan segera mendapat feedback apakah tekanan darah mereka telah mencapai target, bagaimana tekanan darahnya dibanding hasil sebelumnya, dan grafik secara keseluruhan.

Setelah dievaluasi, ternyata program ini cukup efektif meningkatkan kontrol tekanan darah. Tekanan darah partisipan turun secara signifikan setelah mengikuti program ini dibandingkan pasien yang tidak mengikuti program ini. 

Sumber: DeAlleaume, L., Pernes, B., Zittleman, L., Sutter, C., Chaves, B., Bernstein, J., LeBlanc, W., Dickinson, M., & Westfall, J. M. (2015). Success in the Achieving CARdiovascular Excellence in Colorado (A CARE) Home Blood Pressure Monitoring Program: A Report from the Shared Networks of Colorado Ambulatory Practices and Partners (SNOCAP). J Am Board Fam Med, 28(5), 548–555. doi: 10.3122/jabfm.2015.05.150024.

“We Talk About Our Hypertension”

Program dengan target partisipan penderita hipertensi usia 50 tahun ke atas ini dilakukan di bagian Red River Delta, Provinsi Hung Yen, Vietnam yang merupakan daerah padat populasi dan kaya dengan hasil pertaniannya. Untuk meningkatkan kepatuhan pasien hipertensi dalam mengontrol tekanan darahnya, program ini menggunakan metode yang unik, yaitu dengan storytelling. Storytelling dapat diterima secara budaya dan sesuai pada populasi dengan tingkat pemahaman tentang kesehatan yang rendah.

“We Talk About Our Hypertension” menggunakan metode storytelling dengan media DVD. DVD tersebut berisi video dari penderita hipertensi yang bercerita tentang bagaimana mereka hidup dengan hipertensi dan mengelola hipertensi yang dideritanya dengan perilaku yang positif. Masing-masing DVD berisi lima kisah dengan durasi total selama kurang lebih 30 menit. Melalui proses editing, konten dari DVD berfokus pada domain health message, yaitu kisah tentang konsekuensi hipertensi sebagai silent killer; mengatasi hambatan dalam mengontrol hipertensi dan pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan, berhenti merokok, perubahan pola makan, penurunan berat badan, mengurangi asupan garam/sodium, memperbanyak aktivitas fisik; persepsi pasien tentang manfaat pengobatan tradisional dan pengobatan medis; dan penggunaan tambahan obat tradisional pada pengobatan medis untuk mengelola hipertensi.

“Bintang” dari video ini merupakan penduduk setempat yang telah melewati proses seleksi sebelumnya oleh tim penggagas program. Dengan demikian, aspek budaya dan nilai-nilai yang dianut dapat diterima dengan mudah oleh partisipan dan partisipan lebih mudah “masuk” ke dalam dunia dari storyteller, sehingga partisipan merasa senasib segera tergerak untuk mengubah perilakunya terkait hipertensi yang dideritanya. 

Sebagai tambahan, DVD disuplementasi fitur “Learn More” yang berisi materi-materi edukatif tanpa storyteller tentang Apa itu hipertensi? Apa konsekuensi hipertensi bila tidak diobati? Seberapa banyak hipertensi dapat sembuh tanpa obat-obatan? Apa obat yang biasa digunakan untuk mengobati hipertensi? Bagaimana obat-obat ini bekerja dana pa efek sampingnya? Mengapa penting untuk minum obat meskipun tidak ada keluhan yang dirasakan? Seberapa penting saya bicara dengan dokter tentang tekanan darah yang tinggi?

Tim penggagas program ini, sebelumnya telah membagikan DVD player kepada semua partisipan dan memberikan workshop singkat bagaimana mengoperasikannya.

Sumber: Allison, J. J., Nguyen, H. L., Ha, D. A., Chiriboga, G., Ly, H. N., Tran, H. T., … Goldberg, R. J. (2016). Culturally adaptive storytelling method to improve hypertension control in Vietnam - “We talk about our hypertension”: study protocol for a feasibility cluster-randomized controlled trial. Trials, 17, 26. http://doi.org/10.1186/s13063-015-1147-6

VoorZoorg: Home Visit oleh Perawat untuk Mencegah KDRT

Nurse Family Partnership (NFP) adalah suatu program kunjungan rumah oleh perawat untuk wanita hamil yang berresiko tinggi. Program ini dikembangkan di Amerika dan beberapa RCT telah menunjukkan efektivitasnya dalam mencegah kekerasan terhadap anak maupun pasangan. 

Di Belanda, NFP dikembangkan sebaga VoorZoorg. Adaptasi utama VoorZoorg dari NFP adalah target berhenti merokok, luaran kelahiran (berat badan lahir dan durasi kehamilan), menyusui, perkembangan anak serta KDRT baik kepada anak maupun pasangan. 

Program home visit NFP dimulai seawal mungkin pada kehamilan sampan anak berusia 2 tahun. Setiap kunjungan berkisar 60-90 menit. Pada program VoorZoorg, home visit dillakukan sebanyak 10 kali pada kehamilan, 20 kali pada tahun pertama dan 20 kali pada tahun kedua.

Untuk mengidentifikasi resiko dan kejadian KDRT, para perawat menggunakan alat Power and Control Wheel. Alat ini menunjukkan berbagai jenis pelecehan yang bisa terjadi di dalam rumah tangga. Demi alasan keamanan, alat ini hanya digunakan bersama si ibu. Selain itu, para perawat juga mendiskusikan bersama orang tua mengenai strategi komunikasi dan manajemen emosi yang baik, serta bagaimana cara bernegosiasi yang baik dalam keluarga. Pada keluarga yang sudah mengalami kekerasan, topik ini ditekankan pada setiap kunjungan.

Sebuah RCT yang membandingkan VoorZoorg dengan plasebo mendapatkan hasil yang positif. Pada awal kehamilan, kedua kelompok sama-sama memilki resiko tinggi untuk KDRT. Pada usia kehamilan 32 minggu dan salam 24 bulan setelah kehamilan, kelompok yang mendapatkan intervensi mengalami lebih sedikit kekerasan fisik maupun seksual.

Kesimpulannya, VoorZoorg efektif untuk menurunkah KDRT pada saat kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan anak.

Referensi:

Article 10: Microbiology Recipes

Article # 10:

Title: Increasing Awareness about Antibiotic Use and Resistance: A Hands-On Project for High School Students

 

 

           
Aim of Intervention:  To evaluate the outcomes of an interventional program implemented at to promote awareness about antibiotic resistance at high school levels

Target Population: High Schoolers (aged 15-16 year old)

Target Place: University of Porto, Portugal

Time Period:  Summer 2011 (1 week)

Intervention Tool(s): One week of summer-school classes (Porto Junior university initiative) involving pre-test, hands-on practical sessions, lectures, and post-test.

Technology: Using IBM SPSS Statistics 20

Results:  The results indicate that the participants developed a more comprehensive picture of antibiotic resistance. The project was shown to promote more sophisticated conceptualizations of bacteria and antibiotics, increased awareness about the perils of antibiotic resistance, and enhanced consciousness towards measures that can be undertaken to mitigate the problem. 

Costs: Funded by a research grant from Fundação para a Ciência e Tecnologia. Material. Cost breakdown undeclared.


Personal Reflection: An investment into the future generation. Possibly highly effective if incorporated into high school curricula and held in smaller groups, or as an additional activity. Requires funding for teaching materials and laboratory supplies and equipment.

Adolescent compliance in the use of oral contaceptives

Program ini adalah program yang menggunakan konselor sebaya untuk mendidik dan mendukung keluarga berencana pasien berusia 14 -19 tahun. Konselor biasanya berumur 17-18 tahun yang sebelumnya menerima pelatihan keterampilan percakapan dan interaksi, keterampilan observasi, pengambilan keputusan, konseling formal, kerahasiaan, pemecahan masalah dan pengendalian kelahiran. Selama awal kunjungan klinik pasien, mereka  menerima siklus pertama konsultasi mengenai kontrasepsi oral dengan konselor sebaya yang memberikan instruksi dan bimbingan. Kunjungan selanjutnya untuk follow up lalu dijadwalkan untuk mengukur kepatuhan pasiendengan petunjuk penggunaan pil. Program ini dilaksanakan pada remaja yang datang di klinik ginekologi dan melibatkan 57 remaja di atlanta. Pada 1-2bulan follow up peserta program yang mendapatkan pengarahan dengan konselor sebaya memiliki tingkat kepatuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan rekan rekan mereka yang mendapat pengarahan dari perawat. Empat bulan follow up peserta program memiliki nilai kepatuhan yang lebih tinggi dari rekan -rekan mereka.

Menurut saya program ini cocok dilakukan pada remaja yang sudah  menikah karena edukasi mengenai kontrasepsi kurang pas jika diberikan pada remaja yang belum pernah berhubungan seks. Dan apabila edukasi ini dibetikan kepada seluruh remaja makan akan menimbulkannpro dan kontra terkait nilai nilai budaya.

Card, J.J., Niego, S., Mallari, A. & Farrell, W.S., 1996, The Program Archive on Sexuality Health and Adolescence : Promising "Prevention Program in a Box", Family Planning Perspectives, Vol. 28, No.5, pp. 210-220. Available at http://www.jstor.org/stable/2135840


 Relawan Komunitas untuk Mempromosikan Pemberian ASI Eksklusif di Sakoto


Program ini dilakukan di Sokoto, terletak di wilayah North West Nigeria. Latar belakang diinisiasinya program tersebut adalah rendahnya durasi EBF pada hampir keseluruhan ibu menyusui. Secara keseluruhan, durasi rata-rata setiap menyusui adalah 18,6 bulan tetapi EBF sendiri hanya berlangsung setengah bulan karena pengenalan awal air, makanan pengganti ASI dan cairan lainnya. Hal ini diduga berhubungan dengan tingkat pendidikan wanita di North West yang sebagian besar (75%) tidak berpendidikan dan minimum akses terhadap media informatif baik media massa cetak maupun online. 
Oleh karena itu, dibuatlah program sekaligus penelitian mengenai efektivitas program tersebut terhadap perbaikan pemberian EBF pada ibu di Sokoto. 

Peserta dari program ini adalah ibu biologis yang menyusui. Pada tahap awal, program dilakukan dengan  serangkaian kunjungan advokasi kepada para pemimpin masyarakat dan opini. Selama pertemuan ini, dibentuk sebuah KOMITE, dan dilakukan pembahasan strategi. Sepuluh relawan perempuan kemudian dinominasikan sebagai KOMITE dengan kualifikasi minimum: memiliki ijazah sekolah dasar, pengalaman menyusui sebelumnya, tinggal di masyarakat dan memiliki kemauan untuk mengajarkan ibu tentang ASI. Relawan dilatih di sebuah lokakarya yang diadakan di Kwareselama 4 hari. Materi berupa kuliah, memainkan peran dan demonstrasi menggunakan poster dan flip chart. Setiap sesi berlangsung dua setengah jam. Konten pelatihan mencakup keterampilan konseling, dasar-dasar gizi, ASI eksklusif dan instrumen survei.Pada tahap kedua dari studi, survei instrumen  pretes dalam komunitas yang sama di negara tetangga Kebbi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 19% wanita dalam sampel secara eksklusif menyusui dan 45% memiliki pengetahuan yang memadai tentang EBF setelah konseling. Studi pilot ini diikuti oleh surveilor dasar di Kware dan Bodinga, di mana relawan melakukan wawancara dan mengumpulkan data tentang sosio-demografis karakteristik, sikap, pengetahuan dan pemberian makan bayi  termasuk pola ibu  ASI eksklusif. Kemudian dilakukan survei pasca-intervensi yang dilakukan enam bulan setelah konseling menggunakan kuesioner yang sama.Menggunakan kombinasi metode pengambilan sampel sederhana dan sistematis, satu di delapan sampel dari 179 pasangan ibu-anak direkrut dari masing-masing komunitas.
Data dianalisis dan pertemuan awal dibahas dengan Komite. Kemudian disusun rencana tindakan  mengenai pelaksanaan kegiatan konseling, dan Penyidik ​​Utama didiskusikan dengan anggota Komite, keuntungan dari menyusui, mitos dan kesulitan terkait dengan praktek pemberian ASI, pentingnya "sepuluh langkah untuk sukses menyusui", keyakinan budaya tentang makan pra-lacteal, makanan penting yang meningkatkan status gizi ibu, dan pentingnya istirahat yang cukup dan Hygien pribadi untuk ibu menyusui. Selain itu, tokoh masyarakat diberitahu tentang kebutuhan penting untuk mengembangkan dukungan masyarakat untuk menyusui. Tindak lanjut kunjungan yang dilakukan olehrelawan untuk menyelidiki apakah peserta memiliki kekhawatiran lebih lanjut mengenai menyusui.

Pelajaran dari penelitian dan pelaksanaan program ini menunjukkan bahwa konseling oleh para relawan kesehatan masyarakat sangat penting dalam meningkatkan hasil EBF. Konseling merupakan strategi yang berguna untuk mempromosikan  EBF selama enam bulan dan untuk mengembangkan sistem dukungan untuk ibu menyusui.Ibu bekerja mungkin perlu sumber daya tambahan dalam pengaturan ini untuk memungkinkan mereka untuk berlatih EBF. Konseling menjadi efektif karena kebutuhan perempuan untuk menjangkau informasi yang dapat dipercaya bisa terpenuhi melalui relawan.

Temuan ini sekaligus menggaris bawahi pentingnya kelompok yang mendukung ASI  di masyarakat terutama bagi ibu-ibu muda, dan mereka yang berada di bawah stres dan lebih mungkin untuk percaya bahwa ASI sulit keluar.  Melibatkan tokoh masyarakat membantu untuk menggeser norma-norma budaya yang berkaitan dengan praktek-praktek EBF di masyarakat itu dan berpotensi dapat mempengaruhi pemberdayaan perempuan

Hasil :
Setelah konseling, proporsi ibu dengan niat untuk EBF meningkat secara signifikan dengan usia ibu (P = 0.00), pekerjaan (P = 0.00) dan ibu yang menyusui secara eksklusif (P = 0,01). Proporsi ibu dengan pendidikan non formal  yang merencanakan untuk menyusui secara eksklusif meningkat dibandingkan dengan mereka yang pendidikan formal tetapi perbedaannya tidak signifikan secara statistik.
Proporsi ibu yang sedang berlatih EBF meningkat secara signifikan dengan paritas (P = 0,05), usia ibu (P = 0.00), dan pendidikan (P = 0.00). Dalam program ini, ibu yang lebih tua dengan lebih dari lima anak yang telah menyelesaikan pendidikan formal lebih cenderung untuk berlatih EBF.  Proporsi signifikan meningkat perempuan setuju bahwa EBF harus dilanjutkan selama malam hari (P = 0,03), bayi harus diberi makan sesuai permintaan (P = 0,05), EBF menawarkan perlindungan terhadap diare anak (P = 0,01).


Referensi :
 http://www.panafrican-med-journal.com/content/article/10/8/pdf/8.pdf

Mengapa program bisa efektif?

Isu kita dalam kepaniteraan ini adalah belajar tentang program-program public health yang efektif, syukur jika ia juga efisien. Jika ia efektif dan efisien, maka itulah yang kita cari. Program efektif biasanya tidak murah. Jadi efektif itu bertolak belakang dengan tujuan efisiensi.  Ya seperti kritik orang tentang naik becak. Mau aman tetapi murah.. ya tentu saja tidak seperti itu.

Dalam public health, memang arah mencari program yang efektif dan efisien itu menjadi keharusan jika kita hidup di negara yang miskin.

Contoh penting soal efektif dan efisien adalah imunisasi.

  • efektif: 
    • bakteri yang sudah dilemahkan tidak bisa menyerang tubuh hingga sakit. tetapi ia bisa menumbuhkan kekebalan. Kekebalan itu bisa memproteksi serang bakteri ke tubuh di lain waktu. luar biasa.
  • efisien: 
    • ia hanya diperlukan sekali seumur hidup. 
    • jika pemerintah memproduksi vaksin untuk seluruh penduduk, maka ongkos produksi lebih murah lagi. Satu pabrik untuk seluruh kebutuhan vaksin di Indonesia. Menjadi kurang efisien jika untuk menyediakan vaksin, kita memiliki beberapa pabrik. Itulah sebabnya pemerintah memiliki pabrik vaksin. Kita tidak perlu import. Jika import, berarti biaya jadi tambah besar.
Dalam mempelajari program-program public health spesifik, kita ingin belajar seperti apa program itu bisa efektif. Karena itu, catatan penting anda adalah menjelaskan mengapa "intervensi" atau "unsur apa" dari program itu yang membuat efektif.

Bercermin dalam hal obat. Kita mengetahui sebuah obat itu efikasius ("efikasius" untuk obat, "efektif" untuk program) jika ada zat utama yang "nendang dan gol". Dalam obat, efikasius itu bahkan dapat ditentukan dosisnya. Karena itu ketika menilai efektivitas program, kita sedapat mungkin bisa sangat spesifik: unsur apanya yang membuat "nendang dan gol" dan berapa dosis dan lama pengobatannya. Dosis dalam program bisa dijelaskan tentang jumlah pertemuan atau jumlah paparan (apa lagi, sebutkan). Untuk jangka waktu pengobatan di dalam program bisa menyangkut berapa hari atau minggu, atau bulan program itu dilaksanakan. Tentu saja makin singkat waktu, makin efisien. Di situlah kita harus mencari titik temu antara efektivitas dan efisiensi.

Dalam catatan dari masing-masing artikel, tekankan "fitur" khas dari program (bahasa saya adalah yang "nendang dan gol", dosis dan lama intervensi. Artikel yang kita baca tidak selalu menjelaskan hal ini. Tidak apa-apa. Kita bisa tetap bisa mikir kira-kira apa yang membuat program itu efektif, refleksikan. 

So far, catatan-catatan anda so good. 

Salam Mub