The Achieving Cardiovascular Excellence in Colorado (A CARE)
“We Talk About Our Hypertension”
VoorZoorg: Home Visit oleh Perawat untuk Mencegah KDRT
Article 10: Microbiology Recipes
Title: Increasing Awareness about Antibiotic Use and
Resistance: A Hands-On Project for High School Students
Adolescent compliance in the use of oral contaceptives
Program ini adalah program yang menggunakan konselor sebaya untuk mendidik dan mendukung keluarga berencana pasien berusia 14 -19 tahun. Konselor biasanya berumur 17-18 tahun yang sebelumnya menerima pelatihan keterampilan percakapan dan interaksi, keterampilan observasi, pengambilan keputusan, konseling formal, kerahasiaan, pemecahan masalah dan pengendalian kelahiran. Selama awal kunjungan klinik pasien, mereka menerima siklus pertama konsultasi mengenai kontrasepsi oral dengan konselor sebaya yang memberikan instruksi dan bimbingan. Kunjungan selanjutnya untuk follow up lalu dijadwalkan untuk mengukur kepatuhan pasiendengan petunjuk penggunaan pil. Program ini dilaksanakan pada remaja yang datang di klinik ginekologi dan melibatkan 57 remaja di atlanta. Pada 1-2bulan follow up peserta program yang mendapatkan pengarahan dengan konselor sebaya memiliki tingkat kepatuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan rekan rekan mereka yang mendapat pengarahan dari perawat. Empat bulan follow up peserta program memiliki nilai kepatuhan yang lebih tinggi dari rekan -rekan mereka.
Menurut saya program ini cocok dilakukan pada remaja yang sudah menikah karena edukasi mengenai kontrasepsi kurang pas jika diberikan pada remaja yang belum pernah berhubungan seks. Dan apabila edukasi ini dibetikan kepada seluruh remaja makan akan menimbulkannpro dan kontra terkait nilai nilai budaya.
Card, J.J., Niego, S., Mallari, A. & Farrell, W.S., 1996, The Program Archive on Sexuality Health and Adolescence : Promising "Prevention Program in a Box", Family Planning Perspectives, Vol. 28, No.5, pp. 210-220. Available at http://www.jstor.org/stable/2135840
Relawan Komunitas untuk Mempromosikan Pemberian ASI Eksklusif di Sakoto
Program ini dilakukan di Sokoto, terletak di wilayah North West Nigeria. Latar belakang diinisiasinya program tersebut adalah rendahnya durasi EBF pada hampir keseluruhan ibu menyusui. Secara keseluruhan, durasi rata-rata setiap menyusui adalah 18,6 bulan tetapi EBF sendiri hanya berlangsung setengah bulan karena pengenalan awal air, makanan pengganti ASI dan cairan lainnya. Hal ini diduga berhubungan dengan tingkat pendidikan wanita di North West yang sebagian besar (75%) tidak berpendidikan dan minimum akses terhadap media informatif baik media massa cetak maupun online.
Data dianalisis dan pertemuan awal dibahas dengan Komite. Kemudian disusun rencana tindakan mengenai pelaksanaan kegiatan konseling, dan Penyidik Utama didiskusikan dengan anggota Komite, keuntungan dari menyusui, mitos dan kesulitan terkait dengan praktek pemberian ASI, pentingnya "sepuluh langkah untuk sukses menyusui", keyakinan budaya tentang makan pra-lacteal, makanan penting yang meningkatkan status gizi ibu, dan pentingnya istirahat yang cukup dan Hygien pribadi untuk ibu menyusui. Selain itu, tokoh masyarakat diberitahu tentang kebutuhan penting untuk mengembangkan dukungan masyarakat untuk menyusui. Tindak lanjut kunjungan yang dilakukan olehrelawan untuk menyelidiki apakah peserta memiliki kekhawatiran lebih lanjut mengenai menyusui.
Proporsi ibu yang sedang berlatih EBF meningkat secara signifikan dengan paritas (P = 0,05), usia ibu (P = 0.00), dan pendidikan (P = 0.00). Dalam program ini, ibu yang lebih tua dengan lebih dari lima anak yang telah menyelesaikan pendidikan formal lebih cenderung untuk berlatih EBF. Proporsi signifikan meningkat perempuan setuju bahwa EBF harus dilanjutkan selama malam hari (P = 0,03), bayi harus diberi makan sesuai permintaan (P = 0,05), EBF menawarkan perlindungan terhadap diare anak (P = 0,01).
Mengapa program bisa efektif?
Dalam public health, memang arah mencari program yang efektif dan efisien itu menjadi keharusan jika kita hidup di negara yang miskin.
Contoh penting soal efektif dan efisien adalah imunisasi.
- efektif:
- bakteri yang sudah dilemahkan tidak bisa menyerang tubuh hingga sakit. tetapi ia bisa menumbuhkan kekebalan. Kekebalan itu bisa memproteksi serang bakteri ke tubuh di lain waktu. luar biasa.
- efisien:
- ia hanya diperlukan sekali seumur hidup.
- jika pemerintah memproduksi vaksin untuk seluruh penduduk, maka ongkos produksi lebih murah lagi. Satu pabrik untuk seluruh kebutuhan vaksin di Indonesia. Menjadi kurang efisien jika untuk menyediakan vaksin, kita memiliki beberapa pabrik. Itulah sebabnya pemerintah memiliki pabrik vaksin. Kita tidak perlu import. Jika import, berarti biaya jadi tambah besar.