Mother to Mother (M2M) Peer Support or Mentor Mother in PMTCT

Mother Mentorship Initiatives meliputi:
·         Edukasi kesehatan
·         Edukasi HIV
·         Edukasi pencegahan STI; safer sex practices
·         Rencana kelahiran
·         Konseling pemberian makan bayi
Mentor mother berkordinasi dengan staf pelayanan kesehatan termasuk pertemuan-pertemuan rutin. Kemudian mentor other akan menyarankan pasien lainnya untuk mengunjungi fasilitas kesehatan untuk konseling professional dan mendapatkan dukungan psikososial. Mentor mother minimal mengunjungi 4 wanita per minggu dan menghabiskan waktu rerata 6 jam pada setiap wanita.
Efek dari program ini meliputi hal-hal berikut:
1.       Individual Level: Improved Self-efficacy and Motivation
2.       Peer and Family Level: Addressing Non-disclosure
3.       Peer and Family Level: The Role of Men in PMTCT
4.       Peer and Family Level: Peer Support
5.       The Community Context: Stigma and Discrimination
6.       Socio-cultural Environment: Gender Norms
7.       Socio-cultural Environment: Culture and Community Behavioural Norms

8.       Retention and Adherence - a Cross-cutting Issue

Early Infant Diagnosis (EID) pada HIV-exposed Infants

Proses Program ini digambarkan sebagai berikut:
1.       Community preparation
a.       Pendekatan komunitas
b.      Advokasi pemimpin daerah
c.       Pertemuan rutin dengan masyarakat
2.       Health facility selection
a.       Pemilihan tempat dengan program PMTCT
3.       Health facility preparation
a.       Mengusahakan staf fasilitas kesehatan merujuk HIV exposed infant untuk pelayanan EID.
b.      Identifikasi tempat-tempat pelaksanaan EID
c.       Bekerjasama dengan staf pelayanan kesehatan untuk pelaksanaan program
d.      Mengimplementasi sistem pengantaran sampel
4.       Capacity building
a.       Pelatihan mentor
5.       Laboratory establishment
a.       Renovasi laboratorium
b.      Pelatihan petugas laboratorium dengan fasilitas PCR
c.       Menyediakan mentor ahli dan supervise regular di laboratorium
d.      Membuat quality assurance.
6.       Defining the HIV testing algorhitm
a.       Dilakukan pada level nasional dengan Kementerian Kesehatan
7.       Registration and follow-up HIV exposed infants and data collection
a.       Membuat alat penyimpanan data terkait HIV –exposed infants
b.      Membuat SOP pelayanan klinis
c.       Meregistrasi HIV-exposed infants pada untuk EID
d.      Follow-up komperhensif

e.      Karena keterbatasan sumber daya, dilakukan follow-up melalui perjanjian, telepon dan kunjungan rumah


Mother to Child Transmission Plus Initiative (MTCT-Plus Initative)

Pada tahun 2001, kerangka konsep MTCT-Plus Initiative dikembangkan dan dilakukan di Columbia University’s Mailman School of Public Health.
Elemen fundamental dari MTCT Plus Initiative adalah menghubungkan program PTMCT; Family Centered Care dan Pelayanan HIV spesifik seperti berikut:
·         Funding to support staff
·         Funding to support key laboratory tests, such as CD4 cell count and diagnostics for infants
·         Funding to support costs incurred by people living with HIV/AIDS,such as transport
·         Funding to enhance site capacity and infrastructure
·         The Clinical Manual, and treatment algorithms
·         Central procurement of MTCT-Plus medicines :antiretroviral drugs, cotrimoxazole,isoniazid,dapsone, multivitamins and others
·         Staff training
·         Site support
·         Data management
·         Programme evaluation
Model ini menyediakan pelayanan terintegrasi yang meliputi: pencegahan klinis, nutrisi, keluarga berencana, konseling dan pendukung; ARV bila teriindikasi
Pelayanan minimal yang disediakan pada MTCT Plus mencakup:
1.       Health care for adults and children living with HIV/AIDS
2.       Early diagnosis of infant HIV-infection status
3.       Clinical and immune monitoring
4.       Prevention of opportunistic infections
5.       Antiretroviral therapy
6.       Education and counselling
7.       Adherence support
8.       Social and psychological support
9.       Outreach and community linkage
10.   Retention in long-term care
11.   Prevention of transmission to others

Antenatal Couple Counseling

Tujuan program Antenatal Couple Counseling adalah untuk mencegah transmisi HIV. Program ini dibuat pada klinik antenatal di Nairobi yang diminta kembali dengan membawa pasangan untuk melakukan VCT (Voluntary Counseling Testing), dan diberikan konseling individu dan pasangan. Dengan inisiasi Antenatal Couple Counseling, pada jurnal ini terbukti meningkatkan asupan Nevirapine , inisiasi susu formula dan pemakaian kondom.


MAKGABENENG; Radio Role Model for Prevention of Mother to Child Transmission of HIV and HIV Testing

Program ini (Makgabeneng) menggunakan strategi yang diusung berdasarkan MARCH (Modeling and Reinforcement to Combat HIV/ AIDS) strategy yang diimplementasikan di Botswana. Tujuan utama dari metode ini adalah meningkatkan keikut-sertaan masyarakat terutama ibu hamil terhadap PMTCT HIV melalui jalur media.

Makgabeneng merupakan drama serial yang disiarkan pada stasiun radio Setswana sejak tahun 2001 dan sudah melalui 250 episode hingga tahun 2003 dengan durasi 2x seminggu masing-masing 15 menit ditambah 30 menit episode rekap.


Jalan cerita dan karakter di dalam serial drama ini mengandung informasi mengenai pemeriksaan HIV selama kehamilan dan mendemonstrasikan keuntungan dalam mengikuti program PMTCT dengan 3 karakter pemeran utama, Mary, Masego, dan Cecilia. Pada jalan cerita tersebut, Mary adalah berperan sebagai contoh negatif, Masego adalah contoh positif dann Cecilia adalah pendukung Masego dalam jalan cerita. 

"Wise Guys"

Wise guys adalah program pencegahan kehamilan yang menawarkan informasi komprehensif, menekankan bahwa abstinence adalah satu-satunya cara yang 100% efektif untuk menghindari adanya kehamilan yang tidak diinginkan dan penyakit menular seksual.
Program ini dikembangkan melalui 5 tujuan spesifik : untuk memberi pengetahuan kepada remaja muda, mendorong rasa hormat terhadap diri sendiri, untuk mengajari remaja laki laki pentingnya tanggung jawab, untuk meningkatkan komunikasi remaja dengan orang tua dan untuk mencegah kehamilan. Wise guys bekerja untuk membantu remaja laki laki untuk membuat "wise decisions" dengan memberikan informasi kepada mereka tentang seksualitas yang akurat dan mengarahkan mereka melalui 3 pertanyaan penting : "Siapa saya?", "Kemana saya akan pergi?" dan "Bagaimana saya bisa pergi kesana?". Kurikulum wise guys mengandung 10 komponen termasuk perlindungan diri, klarifikasi nilai-nilai, komunikasi, abstinence dan kontrasepsi, penyakit menular seksual, pembuatan keputusan, pencapaian tujuan, kekerasan dalam hubungan dan bagaimana menjadi orang tua.
Program ini disampaikan melalui sesi kelompok kecil sekali seminggu selama setidaknya 10-12 minggu. Target wise guys adalah anak SMP kelas 7 dan 8, remaja laki-laki berumur 10 - 19 tahun. Setelah dilakukan 6 bulan follow up, remaja laki laki yang mengikuti program ini dibandingkan dengan remaja laki-laki yang tidak mengikuti program ini. Evaluasi didapatkan terdapat peningkatan pengetahuan mengenai seksualitas dan kotrol kelahiran, peingkatan komunikasi dengan orang tua dan sikap lebih positif. Remaja laki-laki yang aktif secara seksual pada waktu memasuki program ini mengalami peningkatan penggunaan kontrasepsi 28 %.

Sonenstein, F. L. (1997). Involving males in preventing teen pregnancy: A guide for program planners. pp 123-125.

KEBIJAKAN PENGENDALIAN KECACINGAN DAN PENGETAHUAN MASYARAKAT TERHADAP KECACINGAN DI KABUPATEN BANJAR PROPINSI KALIMANTAN SELATAN

Kecacingan merupakan penyakit yang diabaikan sehingga kurang diperhatikan baik pencegahan maupun penanggulangannya. Meskipun kecacingan cenderung tidak mematikan namun dapat menurunkan kondisi gizi yang mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan mental anak-anak, sedangkan pada orang dewasa menyebabkan turunnya produktivitas kerja. Oleh karena itu, sangat penting dilakukan upaya-upaya yang komprehensif untuk dijadikan data dasar dalam kebijakan strategis pencegahan dan penetapan program penanggulangan kecacingan yang tepat guna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek-aspek spesifik yang menghambat program pengendalian kecacingan di Kabupaten Banjar Provinsi Kalimantan Selatan. PAda Penelitian ini dilakukan Pengumpulan data dilakukan dengan indepth interview terhadap sampel studi kualitatif yaitu para pemegang kebijakan program yang berhubungan dengan pengendalian kecacingan dan kuesioner terhadap sampel studi kuantitatif yaitu orang tua/wali murid SD yang terpilih sebanyak 291 responden. Hasil: Belum ada koordinasi antara lintas program dan lintas sektor dalam pengendalian kecacingan serta belum ada penganggaran dana untuk program kecacingan merupakan salah satu kendala yang menyebabkan kurang lancarnya program kebijakan pengendalian kecacingan. Pengetahuan masyarakat Kabupaten Banjar terhadap penyakit kecacingan termasuk kategori baik. Tidak ada hubungan antara pengetahuan orang tua dengan kejadian kecacingan, sebaliknya adanya hubungan antara pengetahuan anak dengan kejadian kecacingan. Pada jurnal ini saya belajar bahwa sebelum melaksanakan suatu program memang perlu diadakan penelitian-penelitian guna mendorong rasa kepedulian pemerintah terhadap kesehatan masyarakat terutama terhadap kecacingan yang sering disepelekan. Terlihat bahwa Belum ada koordinasi antara lintas program dan lintas sektor dalam pengendalian kecacingan serta belum ada penganggaran dana untuk program kecacingan. referensi : http://oaji.net/articles/2015/820-1432780094.pdf