Interrupting transmission of soiltransmitted helminths: a study protocol for cluster randomised trials evaluating alternative treatment strategies and delivery systems in Kenya

Penelitian ini dilakukan sebagai bentuk lanjutan dari program yang telah ada dan telah berjalan di Kenya yaitu anual SBD (school base deworming). PAda jurnal ini dipaparkan dua intervensi yaitu anual CBD ( Community base deworming) dan bianual CBD dengan 1 kontrol yaitu anual SBD. terlihat bahwa penulis ingin mengembangkan pencegahan terhadap angka cacingan tidak hanya pada anak sekolah namun pada populasi yang lebih luas. peneliti juga membagi anual dan bianual, disini peneliti juga melihat dari sisi pembiayaan. Penghitungan angka kejadian kecacingan dilakukan setelah 30 bulan program ini berlangsung Hasil : prevalensi kecacingan pada SBD lebih besar dibandingkan dengan anual CBD dan bianual CBD Referensi : http://bmjopen.bmj.com/content/5/10/e008950.full.pdf+html

Eff ectiveness of a rural sanitation programme on diarrhoea, soil-transmitted helminth infection, and child malnutrition in Odisha, India: a cluster-randomised trial

Sepertiga dari 2 · 5 miliar orang di seluruh dunia tidak memiliki akses sanitasi hidup di India, seperempat dari 1,5 juta orang yang meninggal setiap tahunnya yang disebabkan penyakit diare. Penelitian ini untuk menilai efektifitas dari intervensi sanitasi di pedesaan dalam mencegah angka kejadian diare,infeksi cacing, dan malnutrisi pada anak. Program ini dilaksanakan 20 Mei, 2010 sampai 22 Desember 2013,pada 100 desa di Odisha, India. subjek pada penelitian ini adalah anak dibawah 4 tahun dan ibu hamil yang dipilih secara acak dan dibagi kedalam dua kelompok, dimana kelompok yang satu tanpa diberikan intervensi ( kontrol)dan yang satu dilakukan promosi kesehatan tentang jamban serta dilakukan pembangunan jamban. HAsil : pemberian promosi kesehatan tentang jamban serta bantuan terhadap pembangunan jamban berpengaruh terhadap angka kejadian diare dan infeksi cacing pada anak. Referensi : http://www.thelancet.com/pdfs/journals/langlo/PIIS2214-109X(14)70307-9.pdf

Impact of a national helminth control programme on infection and morbidity in Ugandan schoolchildren

Tujuan pada penelitian ini adalah untuk menilai dampak dari program pengendalian nasional terhadap angka kejiadian schistosomiasis dan nematoda usus di Uganda, yang telah di intervensi dengan obat cacing sejak tahun 2003. pada penelitian ini yang dipaparkan bukan program melainkan kelanjutan dari sebuah program yang memang seharusnya dilakukan guna melihat efektivitas dari program itu sendiri, dan menjadi masukan untuk pelaksaan program lanjutan dari program yang telah berjalan Penelitian ini dilakukan dengan mensurvei status infeksi, konsentrasi hemoglobin dan morbiditas klinis pada 1871 anak sekolah secara acak yang dipilih dari 37 sekolah di delapan kabupaten di Uganda pada tiga periode waktu - sebelum kemoterapi dan setelah satu dan dua tahun kemoterapi Hasil : pengobatan Antelmintik yang disampaikan sebagai bagian dari program pengendalian cacing nasional dapat menurunkan infeksi dan morbiditas antar sekolah dan meningkatkan konsentrasi hemoglobin referensi : https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2174620/pdf/06-030353.pdf

De-worming school children and hygiene intervention

UNICEF East Asia and Pacific Regional Office saat ini bekerja sama dengan Asian Centre of International Parasite Control (ACIPAC) dan didukung oleh Hashitomo Initiative for global Parasites and Malaria control programme), Japan International Cooperation Agency (JICA) the World Health Organization dalam mendukung pelaksanaan program school-based de-worming and improved sanitation and hygiene package Program ini menggabungkan terapi obat anthelminthic pada anak-anak sekolah dengan Program SSHE menjadi Focusing Resources on Effective School Health (FRESH) program ini meliputi mobilisasi sosial, komunikasi, pendidikan kebersihan, penyediaan toilet sanitasi,pemantauan dan penilaian. Focusing resources on effective school health (FRESH) FRESH merupakan inisiatif antar-lembaga antara UNICEF, United Nations Education, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), WHO dan the World Bank yang pertama kali diluncurkan pada konfrensi ‘Education for All’ di Dakar, Senegal pada bulan april April 2000. Tujuan dari FRESH adalah untuk meningkatkan kesadaran sektor pendidikan tentang nilai dan penerapan kesehatan sekolah yang efektif, kebersihan dan program gizi sebagai salah satu strategi utama untuk mencapai 'Education for All'. FRESH mempromosikan empat intervensi inti: (1) penyediaan air bersih, kebersihan] (2) pelayanan kesehatan dan gizi berbasis sekolah; (3) pendidikan kesehatan berbasis keterampilan, dan (4) kebijakan sekolah yang berhubungan dengan kesehatan. Semua intervensi inti harus dibuat tersedia bersama-sama, di semua sekolah mengadopsi pendekatan FRESH. Ini adalah satu-satunya perbedaan dari program di sekolah yang telah berjalan berjalann. strategi pendukung FRESH ini mengadopsi: (i) kemitraan yang efektif antara WES, sektor pendidikan dan kesehatan, guru dan tenaga kesehatan; (Ii) masyarakat yang efektif kemitraan; (iii) kesadaran murid dan partisipasi referensi :http://www.sas.upenn.edu/~dludden/WaterborneDisease2.pdf (International Journal of Environmental Health Research 13, S153 – S159 (June 2003))

The Impact of Mother-to-Mother Support on Optimal Breastfeeding : controlled community intervention trial in peri-urban Guatemala City, Guatemala

 

La Leche League Guatemala, sebuah organisasi non profit mengembangkan program pelatihan relawan konselor menyusui di pinggiran koota Guatemala. Program ini dumulai pada tahun 1999. Konselor menerima pelatihan dan tindak lanjut dari LLLG untuk melaksanakan promosi dan dukungan kegiatan menyusui di masyarakat tempat mereka tinggal. Konselor memfasilitasi kelompok dukungan ibu-ke-ibu; mengunjungi wanita di rumah mereka; melakukan kontak informal pada perempuan di bus, di pasar, dan di tempat umum lainnya; dan merujuk perempuan ke klinik kesehatan terdekat untuk melakukan manajemen laktasi untuk masalah-masalah yang tidak dapat ditangani para konselor.
Fokus utama dari kerja konselor adalah memfasilitasi kelompok dukungan ibu-ke-bu melalui kunjungan periodik rumah. Kelompok dukungan ibu-ke-ibu biasanya diadakan bulanan di rumah peserta atau di gereja-gereja, sekolah, atau tempat umum lainnya. Selama pertemuan, konselor memperkenalkan salah satu dari empat topik utama: 1) Keuntungan dari menyusui, 2) Proses awal menyusui, termasuk teknik untuk menyusui, 3) Kesulitan menyusui dan cara mengatasinya, dan 4) Makanan pendamping ASI. Untuk memfasilitasi diskusi dan pembelajaran, Organisasi ini menggunakan poster kain besar untuk setiap topik. Selama pertemuan kelompok, konselor tidak hanya memberikan dorongan kepada ibu untuk menyusui tetapi mendukung mereka dalam keputusan jenis makanan bayinya apakah ibu memilih menyusui atau tidak.

Dimulai pada tahun 1999 La Leche League Guatemala memperkenalkan sejumlah perubahan lain untuk programnya. LLLG lebih jelas difokuskan pada wanita hamil dan ibu dari anak-anak kurang dari usia 6 bulan. Misalnya, konselor meningkatkan kunjungan rumah untuk wanita hamil dan mengundang mereka untuk menghadiri kelompok dukungan ibu-ke-ibu. LLLG mengintensifkan usaha untuk menyampaikan pesan utama. Misalnya, tentang segera menyusui dan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama dan meminta ibu hamil untuk mengingatkan mereka ketika melahirkan sehingga konselor bisa memberikan dukungan pada ibu dan menjawab pertanyaan mereka.

LLLG melatih para konselor untuk menegosiasi perbaikan praktek  menyusui dengan ibu selama kunjungan rumah. LLLG juga memberikan pelatihan yang lebih praktis untuk konselor baru. Konselor menghabiskan sekitar 50% waktu lebih banyak selama 35-45 jam pelatihan mempraktikkan keterampilan yang baru diperoleh dengan peserta lainnya.
LLLG lebih jelas
membatasi wilayah geografis di mana konselor bekerja, membuat upaya eksplisit untuk merekrut dan melatih konselor di wilayah geografis, dan mempekerjakan empat penghubung masyarakat, yang dibayar dengan gaji sederhana untuk memotivasi dan memberikan dukungan untuk konselor baru

Selama 1 tahun setelah program dilaksanakan, diadakan sensus pada wanita yang telah menjalani maupun mengetahui program ini. Dari sensus tersebut rata-rata komunitas yang melakukan pemberian ASI secara dini  signifikan lebih tinggi pada komunitas program dibandingkan komunitas control. Tetapi perubahan dari waktu ke waktu antara komunitas program dan control tidak signifikan berbeda. Meskipun didapatkan 45% wanita dalam komunitas program yang mendapat kunjungan rumah dan mengikuti kelompok dukungan ibu-ke-ibu  melakukan ASI eksklusif sedangka pada komunitas program yang tidak berpartisipasi dalam kedua aktivitas tersebut yang melakukan ASI eksklusif sebesar 14%.
Selain itu, perempuan yang terpapar kegiatan dukungan ibu-ke-ibu selama tahun berikutnya berdasarkan sensus dan survei meningkat dan memungkinkan nantinya menyusui secara eksklusif dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa program dapat menjadi lebih efektif dari waktu ke waktu.

Referensi :
http://www.scielosp.org/pdf/rpsp/v12n3/12874
Training Peer Counselors to Promote and Support Exclusive Breastfeeding in Bangladesh

Sekitar 90% dari perempuan di Bangladesh melahirkan di rumah, sehingga Baby-Friendly Hospital Initiative tidak memiliki mekanisme untuk menjangkau mereka. Kelompok Ibu pendukung tidak ada, dan tenaga medis  komunitas tidak punya waktu untuk mempromosikan dan mendukung ASI eksklusif. Untuk memberikan dukungan di tingkat masyarakat, suatu daerah di Dhaka mengembangkan program intervensi peer-counseling. Menggunakan kriteria seleksi tertentu, 1 wanita dari setiap komunitas dilatih sebagai konselor sebaya.Program pelatihan ini didasarkan pada World Health Organization/United Nations International Children's Emergency Fund 40-hour breastfeeding counseling course dan buku terkait. Keterampilan konseling diajarkan menggunakan demonstrasi dan bermain peran, dilanjutkan dengan pelatihan praktek di wilayah proyek. Intervensi ini sangat sukses, karena 70% dari ibu-ibu di wilayah proyek ASI bayi mereka secara eksklusif selama 5 bulan dibandingkan dengan hanya 6% di wilayah kontrol. Para penulis menggambarkan pelatihan konseling sebaya, strategi yang digunakan untuk kunjungan konseling sebaya, dan pelajaran.

Referensi :
http://jhl.sagepub.com/content/18/1/7.short

Mother to Mother (M2M) Peer Support or Mentor Mother in PMTCT

Mother Mentorship Initiatives meliputi:
·         Edukasi kesehatan
·         Edukasi HIV
·         Edukasi pencegahan STI; safer sex practices
·         Rencana kelahiran
·         Konseling pemberian makan bayi
Mentor mother berkordinasi dengan staf pelayanan kesehatan termasuk pertemuan-pertemuan rutin. Kemudian mentor other akan menyarankan pasien lainnya untuk mengunjungi fasilitas kesehatan untuk konseling professional dan mendapatkan dukungan psikososial. Mentor mother minimal mengunjungi 4 wanita per minggu dan menghabiskan waktu rerata 6 jam pada setiap wanita.
Efek dari program ini meliputi hal-hal berikut:
1.       Individual Level: Improved Self-efficacy and Motivation
2.       Peer and Family Level: Addressing Non-disclosure
3.       Peer and Family Level: The Role of Men in PMTCT
4.       Peer and Family Level: Peer Support
5.       The Community Context: Stigma and Discrimination
6.       Socio-cultural Environment: Gender Norms
7.       Socio-cultural Environment: Culture and Community Behavioural Norms

8.       Retention and Adherence - a Cross-cutting Issue